Misteri Kitab Henokh (The Book of Enoch): Raksasa, Malaikat, dan Kebenaran Nabi Idris dalam Islam
Pernahkah Anda mendengar tentang "The Book of Enoch" atau Kitab Henokh? Sebuah buku kuno yang penuh dengan rahasia, menceritakan tentang raksasa, malaikat yang turun ke bumi, dan peristiwa-peristiwa yang mengguncang dunia. Saking kontroversialnya, buku ini bahkan tidak dimasukkan ke dalam kanon Alkitab oleh banyak tradisi Kristen.
Namun, sebagai umat Islam, bagaimana kita memandang kitab ini? Apakah sosok "Enoch" di dalamnya benar-benar Nabi Idris A.S.? Dan benarkah dahulu kala bumi ini dihuni oleh para raksasa? Mari kita bedah berdasarkan perspektif Islam dan sejarah yang terangkum dalam kisah Nabi Idris.
Apa Itu Kitab Henokh?
Kitab Henokh adalah teks kuno yang ditemukan dalam beberapa versi, mulai dari bahasa Ethiopia, Yunani, hingga potongan dalam bahasa Aram di Naskah Laut Mati (Dead Sea Scrolls). Buku ini berisi kisah-kisah yang sangat mendetail tentang "Malaikat Jatuh" (Fallen Angels) yang menikahi wanita manusia dan melahirkan ras raksasa bernama Nephilim.
Dalam pandangan Islam, kita tidak bisa menelan mentah-mentah isi kitab ini, namun tidak juga serta merta menolaknya 100% jika ada bagian yang sesuai dengan wahyu. Namun, ada perbedaan mendasar yang sangat penting: Islam tidak mengenal konsep Malaikat Jatuh.
Raksasa dan "Malaikat Jatuh": Koreksi dari Islam
Dalam Kitab Henokh versi Barat, disebutkan bahwa kekacauan di bumi disebabkan oleh malaikat yang membangkang. Islam membantah hal ini. Malaikat adalah makhluk yang terbuat dari cahaya (nur) dan selalu taat kepada Allah. Makhluk yang membangkang dan memiliki nafsu adalah Jin. Iblis bukanlah malaikat yang jatuh, melainkan dari golongan Jin.
Lantas, bagaimana dengan raksasa? Meskipun Al-Quran tidak secara spesifik menggunakan istilah "Nephilim", Islam mengakui keberadaan manusia-manusia terdahulu yang bertubuh sangat besar.
Nabi Adam A.S. diriwayatkan memiliki tinggi sekitar 60 hasta (kurang lebih 30-40 meter).
Kaum 'Ad (kaumnya Nabi Hud) dijelaskan dalam Al-Quran sebagai orang-orang yang memiliki fisik sangat kuat dan besar.
Nabi Idris hidup di antara masa Nabi Adam dan Nabi Hud. Jadi, sangat masuk akal jika Nabi Idris dan umatnya pada masa itu juga memiliki postur tubuh layaknya "raksasa" jika dibandingkan dengan manusia modern.
Siapakah Nabi Idris A.S.?
Nabi Idris dikenal sebagai manusia pertama yang menulis dengan pena dan menjahit pakaian. Sebelum beliau, manusia mengenakan kulit binatang. Beliau adalah sosok yang cerdas, ahli ilmu perbintangan (astronomi), matematika, dan memiliki derajat yang sangat tinggi di sisi Allah.
Salah satu kisah paling menakjubkan tentang Nabi Idris adalah persahabatannya dengan Malaikat, yang berujung pada perjalanan spiritual yang luar biasa.
Kisah Nabi Idris Mencicipi Kematian dan Masuk Surga
Diriwayatkan bahwa Nabi Idris bersahabat dengan Malaikat (dalam beberapa riwayat disebut Malaikat Maut/Izrail) karena kesalehannya. Karena kedekatan ini, Nabi Idris mengajukan permintaan-permintaan yang "mustahil" bagi manusia yang masih hidup:
Merasakan Sakaratul Maut: Nabi Idris ingin merasakan bagaimana rasanya mati agar rasa takut dan ibadahnya kepada Allah semakin meningkat. Atas izin Allah, Malaikat Maut mencabut nyawanya sesaat, lalu menghidupkannya kembali. Nabi Idris menggambarkan rasa sakitnya seperti "kulit domba yang dikuliti hidup-hidup".
Melihat Neraka: Beliau meminta diperlihatkan neraka. Ketika melihatnya, beliau pingsan karena saking mengerikannya siksaan di dalamnya.
Melihat Surga: Terakhir, beliau meminta melihat surga. Ketika sampai di sana dan melihat kenikmatannya, Nabi Idris menolak untuk keluar.
Ketika Malaikat Maut memintanya keluar, Nabi Idris berdebat dengan cerdas menggunakan dalil:
"Setiap yang bernyawa pasti mati" (Beliau sudah merasakan mati).
"Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu" (Beliau sudah melihat neraka).
"Dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya (surga)" (Karena sudah masuk, beliau tidak mau keluar).
Allah SWT membenarkan argumen Nabi Idris. Beliau memenangkan perdebatan itu karena kecerdasan dan keteguhan imannya, sehingga diizinkan tetap berada di Surga. Inilah tafsir dari ayat Al-Quran Surah Maryam: 57, "Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi."
Hikmah yang Bisa Kita Ambil
Kisah Nabi Idris mengajarkan kita bahwa ilmu pengetahuan (seperti menulis dan menjahit) dan kesalehan spiritual harus berjalan beriringan. Beliau adalah simbol manusia yang sukses dunia dan akhirat. Kecerdasannya tidak membuatnya sombong, dan ibadahnya tidak membuatnya melupakan urusan umat.

Posting Komentar untuk "Misteri Kitab Henokh (The Book of Enoch): Raksasa, Malaikat, dan Kebenaran Nabi Idris dalam Islam"
Posting Komentar